Kisah Koin Penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”. Demikianlah ALLAH SWT mengatur hak-hak kita….Bila kita sadar kita tak pernah benar2 memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Terus bersyukur atas apa yg diberikan ALLAH SWT saat ini, dan memaksimalkan kemanfaatannya bagi banyak orang seluas2nya…demikianlah tugas kita :) :) Terus berusaha berpendar menjadi NUR (Cahaya) bagi sekeliling kita dan menghindar menjadi NAR (api)… Semoga ada mafaatnya sedikit :) :), barakallah fiikum

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jajan Pasar

Lepet, bikang, lumpur, nagasari dll adalah jajanan pasar yang kita bisa temukan sehari2 di pasar. Jajanan ini hanya ada di pasar saat pagi sekitar jam 6-8. Mungkin di atas jam 8 jajanan tersebut dah habis dibeli oleh penggemarnya atau para mlijo dan ethek. Mlijo dan ethek adalah tukang sayur keliling yang biasa menjajakan dagangannya dengan jalan, naik sepeda onthel atau bahkan motor.

Si tukang sayur inipun sudah nongol dirumah bersamaan dengan tukang koran pagi. Malang hanya berjarak 2jam dari Surabaya, maka koranpun sudah nongol di depan rumah pada jam 6. Benar2 sulit membayangkan kerja publisher dan wartawan yang harus dikejar deadline. Begitupula dengan jajanan pasar.

Jajanan inipun dikejar deadline. Para ibu memasak kue2 khas Jawa ini sudah meluangkan waktu bahkan dari pukul 1 malam. Bisa dibayangkan semua masih pada molor dan ngorok, tetapi dengan gergas nya para ibu mempersiapkan kue2 ini untuk dibawa ke pasar. Jajanan dengan bahan dasar beras ketan putih sudah pasti harus direndam semalam, seperti lemper atau ketan bubuk. Jadi dibutuhkan persiapan lebih dari 24 jam untuk mempersiapkan.

Tidak dinyana ternyata untuk persyaratan mereka2 yang membutuhkan jajan pasar dalam upacara adat misal Hindu atau untuk keperluan syarat berdoa bagi event2 tertentu masyarakat Jawa, jajan pasar ini menduduki peran dominan. Bahkan tidak bisa tergantikan dengan kue2 modern seperti roti, cake es chream dll. Lalu apa yang membuat jajanan sederhana ini menjadi khas dan menjadi syarat utama upacara2 adat yang tidak bisa tergantikan dengan kue2 modern?

Seandainya dibicarakan dengan nalar mungkin sulit untuk dipercaya bahwa Jajanan Pasar adalah syarat utama yang dipersandingkan dalam upacara adat, baik Hindu maupun Jawa. Timing pengolahan jajan pasar inilah yang menjadikan kue ini wajib dihidangkan dan tak tergantikan dengan kue modern. Para ibu memasak jajanan tradisional ini dimulai pada dini hari, dan tentu saja diiringi dengan doa. Malam dini hari adalah saat yang paling tepat untuk bangun dan berdoa. Begitu pula dengan para ibu pembuat jajan tradisional. Merka bangun dengan sigap, sementara memasak air mereka melakukan sholat tahajjud. Dan inilah mengapa jajan pasar begitu bermakna spiritual yang cukup kental hingga dalam upacara adat kue2 ini tak tergantikan.

Barakallahu lakum..

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Pembantu Rumah Tangga

Di Jakarta hidup bermacam-macam orang. Ada kaum yang merasa paling unggul, paling mulia, paling agung hanya karena punya uang, fasilitas lengkap penuh kemewahan. Memandang remeh setiap pribadi yang dianggap kurang darinya, juga senang memperbudak orang. Itu saja sudah cukup membuat geram. Yang mengherankan, kalau ada orang yang suka diperbudak. Yahhh… mungkin tidak bisa dibilang suka juga, tapi jika turun-temurun sejak nenek moyang memang sudah hidup menjadi kacung dan tidak ada kehidupan lain yang diketahui selain menghamba, jadilah jongos sejati.

Meski begitu, ada juga orang yang menjadi babu karena keterpaksaan. Seperti Kana. Padahal dulunya bapak Kana adalah orang terkaya di kampungnya. Punya perkebunan puluhan hektar. Tapi nasib baik memang tidak selalu berpihak pada mereka. Saat Ibu Kana merasa terancam dengan statusnya sebagai istri kedua, takut seluruh hartanya dikuasai oleh istri pertama dan anak-anaknya, maka munculah ide brilian yang akhirnya menyengsarakan. Dihasutnya Bapak Kana untuk menjual seluruh perkebunan. Saat itu, uang yang didapatkan sungguh tak terkatakan. Satu lemari penuh. Bagaikan orang kalap, uang itu dihambur-hamburkan begitu saja. Dipinjam adik, kakak, ipar, tetangga dan akhirnya habis sudah. Tak ada harta yang tersisa. Investasi hanya berupa sawah sepetak yang tak seberapa. Maka miskinlah keluarga Kana. Miskin dan tidak pernah bisa kaya kembali. Maka, Kana jugalah yang akhirnya menjadi korban. Kehilangan masa remajanya, terpaksa mengadu nasib ke Jakarta sebagai pembantu, seperti teman-temannya.

Bagiku, orang seperti Kana seharusnya patut diacungi jempol. Masih muda, tetapi sudah hidup mandiri, tidak menyulitkan orangtua… mencari uang sendiri. Jadi semestinya Kana bangga dengan pekerjaannya. Maka saat aku menanyakan perihal ketidakterbukaannya atas pekerjaannya saat ditanya orang, wajahnya mendadak merah padam. Bukan karena malu, tapi karena kemarahan yang tiba-tiba, “Kakak pikir aku gak pernah ngaku jadi pembantu???” Kana sangat tersinggung dengan perkataanku.

“Kakak anggap masalahku enteng???” matanya mulai berkaca-kaca.

“Kakak gak pernah tau yang aku alamin sebelum ketemu Kakak,” dia menutup matanya, menguatkan hati untuk mengorek luka lama, “Bangsat satu itu udah bikin aku kayak anjing, Kak. Anjing malah masih diperlakukan lebih layak daripada aku!!!”

Belum pernah aku rasakan kemarahan yang teramat sangat seperti itu, aku mulai ketakutan.

“Aku nyesel banget ibu itu milih aku jadi pembantunya, tapi aku bisa apa, Kak? Apa aku boleh milih majikan???” air mata membasahi pipinya. Dia terisak-isak menangis tiada henti.

Aku hanya bisa diam sambil menerawang. Teringat saat menemani bu Andi ke penyalur PRT alias Pembantu Rumah Tangga. “Yuk, Aira, temenin bu Andi ngambil pembantu.” Ajak bu Andi suatu sore.

Ngambil??? Iya, ngambil. Seolah pembantu itu bukan manusia. Seperti barang saja. Bagiku hal wajar kalau kita menggunakan kata “ngambil” pada barang titipan, pada uang yang tersimpan di bank, pada buku di perpustakaan, pada sampah yang berceceran di jalan…tapi jika kata itu dipergunakan pada manusia, rasanya itu sudah jadi penghinaan paling besar terhadap lambang negara kita Pancasila, sila kedua: ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ yang selalu harus dihapalkan waktu SD.

            Saat dengan ogah-ogahan menemani ke penyalur, keadaan tidak lebih baik. Kalau ke Pet Shop, orang akan memilih peliharaan yang paling baik, “Ihhh lucu banget anjingnyaaaa, cute abisss!” Dan akan menambahkan puji-pujian yang berlebihan. Begitu sampai di rumah, anjing itu akan diberi makan yang paling mahal yang bahkan biaya makannya bisa berpuluh kali lipat dari biaya makan yang memeliharanya. Anjing itu akan jadi kebanggaan, dipamerkan pada semua orang. Anjing itu akan jadi simbol kekayaan pada tuan rumah. perawatan rutin selalu dilakukan, entah itu mandi rutin dengan sampo khusus, imunisasi rutin, dan rutin juga diajak jalan-jalan, diajak main. Ibarat kata, orang bahkan akan jauh lebih menyayangi anjing daripada anak sendiri. Pada anjing kesayangannya orang tidak akan menuntut, tapi pada anak?

            Berbeda dengan suasana di rumah penyalur. Kata bu Andi kalau kita pergi ke Yayasan yang mewah, gaji pembantunya mahal. Pembantunya belagu dan banyak tingkah. Jadi bu Andiku yang punya prinsip “dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan untung sebesar-besarnya” lebih memilih pergi ke penyalur yang kondisinya paling buruk yang terletak di perkampungan kumuh. Tentunya suasana di rumah penyalur tidak lebih baik dari Pet Shop. Tidak lebih wangi. Tidak tertata apik. Gentengnya dari seng dan temboknya yang berlumut  kontras menutupi cat tembok murahan berwarna hijau pupus yang sudah terkelupas di sana sini. Di dalam ruangan 3×4 m yang lembab, suram dan minim cahaya matahari itu penuh dengan manusia yang berbau khas, seolah tidak pernah mengenal kegiatan mandi. Dan semuanya perempuan. Perempuan dari berbagai usia duduk di lantai yang dingin, yang tidak pernah dipel selama bertahun-tahun, yang kotorannya sudah mengerak dan membuat pola tersendiri pada lantai-lantai itu. Beratapkan langit-langit dengan triplek yang koyak dan coklat kehitaman bekas bocoran air hujan. Di pojokan seorang ibu sedang mengoreki koreng yang mengering di lututnya. Di sebelahnya anak perempuan beumur belasan sedang mencari kutu seseorang di depannya. Beberapa orang menyanyi kecil sambil bergumam mengikuti irama lagu dangdut yang berkumandang sember dari radio butut tetangga. Selebihnya ngobrol ngalor ngidul dengan bahasa Jawa medok yang tidak kumengerti artinya. 

Perutku mual dan bau menyengat semakin menusuk hidung. Bau apek yang berasal dari penyalur yang tidak berpapan nama ini bercampur dengan bau busuk sampah TPS di seberangnya. Lalar hijau berterbangan di mana-mana. Darimana bu Andi tau tempat ini? Aku bertanya-tanya dalam hati sambil mengutuki bu Andi karena mengajakku ke sini. Aku hanya berdiri, segan duduk bersama mereka sekaligus takut debu yang bertumpuk di lantai akan mengotori celana Guess-ku yang baru aku beli seminggu lalu.  Aku perhatikan bu Andi sedang menaksir-menaksir calon pembantunya, memilih-milih yang terbaik di antara mereka. Di sebelah bu Andi seorang ibu paruh baya mengoceh tiada hentinya sambil mempromosikan mereka satu persatu. Bu Andi tidak mengindahkan perempuan dengan senyum yang dibuat-buat itu. Bu Andiku memang terlalu angkuh untuk mempercayai kata-kata orang. Dia akan memilihnya sendiri, seperti yang dia lakukan jika pergi ke pasar. Memilih bawang merah sendiri, memilih telor sendiri, memilih sayur sendiri. Bu Andi tidak akan membiarkan orang lain memilihkan untuknya. Dan campuran antara sifat perhitungan dan perfeksionis bu Andi selalu menghabiskan banyak waktu. Melebihi waktu normal. Berlarut-larut. Aku menunggu bu Andi dalam kejenuhan. Jenuh pada kegiatan menunggu, jenuh pada bu Andi. Kakiku mulai gemetaran, kepalaku mulai pusing dan padanganku mulai berputar-putar. Perasaan yang selalu datang jika aku menemani bu Andi ke mana saja.

            Jreng!!! Akhirnya bu Andi menemukan pembantu yang dicarinya. Pilihan jatuh pada seorang anak perempuan berumur belasan yang tadi asik mencari kutu. Dia yang paling segar dan wajahnya paling bercahaya. Aku bersyukur bu Andi tidak memeriksa tubuhnya seperti memeriksa ikan. Cari yang insangnya masih merah, yang kulitnya berkilap, kalau kulitnya dicolok tidak melesek ke dalam, itulah kata-kata khas yang keluar dari mulut bu Andi setiap aku menemaninya membeli ikan. Kata-kata yang selalu diucapkan berkali-kali. Beruntung juga bu Andi tidak mengucapkan kata-kata yang tidak jauh berbeda saat memilih-milih pembantu. Aku akan sangat malu jika bu Andi memperhatikan satu demi satu, mencolok-colok kulit mereka seperti mencolok kulit ikan, memeriksa gigi mereka seperti memeriksa insang ikan sambil berkata, “cari yang giginya bersih, yang kulitnya cerah, yang ototnya kuat, yang matanya tidak redup, yang rambutnya tidak berkutu.” Persis seperti pedagang daging manusia yang memeriksa dengan teliti bagian-bagian tubuh barang dagangannya sebelum dijual menjadi budak. Kalau bu Andi seperti itu, aku tidak akan pernah menemani bu Andi ke manapun sampai kapanpun. Bahkan ke surga sekalipun.

            Dan begitu urusan pilah-memilah selesai, pembantu dibawa pulang. Disuruh mandi, iya. Tapi tidak diberi shampo khusus. Tidak juga diberi makan yang lebih mahal dari majikan, tidak diajak jalan-jalan, tidak seperti anjing yang dibeli di Pet Shop. Dan mulailah babak baru lagi dalam hidupnya untuk mengabdi dan berbakti pada majikan, melakukan semua yang diperintahkan tanpa boleh protes, tidak punya hak suara dan tidak dianggap anggota keluarga. Tidak mengenal istirahat. Bahkan di waktu tidur pun tetap harus terjaga untuk melayani sang majikan. Tidak akan dibilang, “Ihhh lucu banget tidurnya.” Seperti yang dilakukan tuan rumah melihat anjingnya tertidur lelap dengan posisi yang menggemaskan dan berjingkat-jingkat meninggalkan anjing itu supaya tidak mengganggu tidur siang sang anjing. Kata-kata Kana ada benarnya juga, anjing masih diperlakukan lebih layak dari pembantu. Anjing masih dihormati.

            Keesokan harinya bu Andi membelikan Yeyem, pembantu yang baru dipungut bu Andi, baju putih, baju khas yang biasa dipakai oleh para baby sitter. Bu Andi terlihat bangga berjalan-jalan di mal bersama Yeyem yang juga bangga mengenakan baju kebesarannya itu. Bu Andi bangga karena dinilai orang ada dalam golongan keluarga kaya dan berpunya, sementara Yeyem bangga karena hanya dengan berganti pakaian semata dia langsung merasa punya kelas dibanding pembantu biasa. Dia merasa derajatnya sudah terangkat. Seolah-olah dia betul-betul seorang baby sitter. Karena dia tahu dia tidak mampu menjadi baby sitter orisinal. Dia hanya bisa gigit jari dan memandang iri saat tahu teman baiknya, Tulkijah, sudah menjadi baby sitter. Tulkijah yang kemudian berganti nama menjadi Gaby bercerita panjang lebar tentang pengalamannya. Diambil dari Yayasan khusus dengan  ruangan yang ber-AC. Manajemen yang jelas dan rapi serta surat-surat resmi dan perjanjian-perjanjian yang ditandatangani di atas materai. Tentunya bayarannya jauh lebih besar dari PRT biasa karena sebelumnya sudah mendapat pelatihan khusus untuk mengurus anak-anak dan bahkan diajari bahasa Inggris pula. Bayangkan! Bahasa Inggris! Bahkan Bahasa Indonesianya saja pun belum lagi lancar.

Sementara Yeyem, diambil dari yayasan yang kondisi bangunannya tidak jauh berbeda dari rumah bordil derajat bawah. Begitu diambil oleh sang majikan pun, nasib Yeyem ada di tangan majikannya. Mau disiram air panas, mau disetrika, mau disiksa, tidak ada urusan lagi dengan yayasan tempatnya bermula. Tapi dia tahu, untuk bisa seharga tenderloin impor dia harus bermodal besar. Menjadi baby sitter hanya angan-angan semata. Maka dia menerima nasibnya hanya menjadi ikan asin makanan kucing karena syarat yang dia tahu takkan mampu dipenuhi. Bahkan baca tulis pun dia tidak bisa. Biarlah bayaran bulanan sangat minim, biarlah pekerjaan terus mendera tanpa boleh kenal lelah seperti jarum jam yang terus berputar, biarlah di dalam rumah dia menjadi pembantu golongan rendah, asalkan setiap keluar rumah orang melihatnya hanya sebagai pengurus adik-adikku dengan mengenakan baju kebesaran, baju sihir yang seolah-olah mengubahnya menjadi the real baby sitter. Keseakan-akanan itu membuat dia tidak peduli lagi lelah dan letih tiada henti. Anggap saja sebuah pengorbanan.

            Bu Andi lain lagi. Bu Andi yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan baby sitter, merasa kesan “keluarga kaya” yang melekat selama ini kurang lengkap jika tidak ada kehadiran sosok baby sitter. Dan bu Andi tahu persis untuk mempekerjakan seorang baby sitter biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, ditambah lagi baby sitter yang merasa punya kelas ini hanya mau mengurusi anak saja dan menolak diberi pekerjaan lain. Mengerjakan pekerjaan rumah adalah hina untuk seorang baby sitter. Karena itu kebahagiaan Yeyem menjadi baby sitter palsu adalah kepuasan bu Andi. Bu Andi mendapatkan gengsi sekaligus pembantu “all in” dengan bayaran minim. Majikan dan pembantu ini berada dalam jalin jemalin hubungan mutualisme, hubungan yang sangat menguntungkan. 

Mental priyayi yang melekat pada diri bu Andi sama kuatnya dengan mental jongos yang melekat pada diri Yeyem. Dari mulai jongos, kacung, babu, PRT… biarpun namanya mengalami penghalusan terus menerus, isinya tetap sama. Maknanya juga. Identik dengan orang bodoh dari kelas sosial terbawah yang tingkat pendidikan serta intelektualnya rendah. Baby sitter tiada beda. Urusan mental tidak dapat ditutupi dengan kegemerlapan apapun.

Tapi Kana? Dia terbuat dari materi yang berbeda. Labelnya memang pembantu, pembokat kalau kata orang Jakarta. Tapi dia lebih dari itu. Bicaranya memang blak-blakan dan jauh dari terpelajar. Tapi kata-katanya selalu bermakna. Apa adanya. Ciri orang pemberani. Berani jujur dimulai dari diri sendiri. Dan satu lagi. Dia kritis. Hal yang masih jarang ditemui dari bangsa yang baru mau bangkit ini.

            Kana mulai berteriak, “pertama dia ngambil aku, dia bilang ‘awas kamu ya godain suami saya.’ Terus dia selalu ngulang kata-kata itu sambil jambak rambut aku. Dia gak pernah nyebut nama aku, selalu bilang ‘heh anjing! Ngepel yang bersih, heh anjing! Cuci yang bener, heh anjing! Kerja ga pernah beres’. Anjing, anjing, anjing terus… aku punya nama, Kak. Capek-capek ibu bapakku kikahan potong kambing buat ngasih nama aku, tapi dia gak pernah sekalipun manggil nama aku. Anjing, anjing, anjing, anjing terussss.” Protesnya padaku, meskipun aku tahu dia hanya mengambil satu demi satu duri yang tertancap pada harga dirinya.

“Anjing masih lebih baik kondisinya daripada aku, Kak. anjing masih dikasih makan setiap hari, tapi aku? Kadang-kadang seminggu aku gak dikasih makan. Sampe perutku perih, melilit terus. Untungnya dia mau kasih aku minum, jadi perut aku gak terlalu kelaperan lagi. tapi air minumnya juga asalnya dari kobokan bekas cuci tangan dia, Kak. Dia juga gak pernah nyuruh pake kata tolong, selalu nunjuk-nunjuk. Nunjuknya juga pake kaki, Kak.” Aku merasakan keperihan dalam nada suara Kana, “Dan ibu itu haji, Kak. HAJI!!! Ibu haji yang udah naik haji 5 kali. Apa begitu yang dia pelajari selama ini? Apa begitu cara ibu haji memperlakukan orang?” dia sangat marah. Protesnya ditujukan pada keyakinan orangtuanya yang diwariskan secara turun temurun. Protesnya ditujukan pada Tuhan yang diperkenalkan padanya sedari kecil. Aku mengira-ngira, mungkinkah kejadian traumatis ini yang menjadi pemicu Kana berhenti percaya pada Tuhan, berhenti percaya bahwa Tuhan itu ada?

            “Kakak inget aku selalu matiin TV tiap Kakak lagi nonton film perang?” tanya Kana sambil terisak.

            Aku mengangguk pelan.

            “Karena aku ngerasa ditusuk-tusuk tiap liat film kayak gitu, Kak. Aku juga suka kesel tiap Kakak bilang, ‘dasar sinetron berlebihan, mata melotot-lotot, nyiksa orang berlebihan gitu,’ tapi aku kayak liat diri yang lagi disiksa gitu, Kak. sinetron emang berlebihan, tapi emang begitu aku diperlakukan, Kak.”

            Kalau benar apa yang dikatakan Kana, hebat sekali ibu haji itu. Sudah merusak jiwa manusia sedari muda, menghancurkan harga diri Kana seketika. Itu sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan.

“Kenapa kamu gak keluar dari sana, Kan?” tanyaku hati-hati sekali.

            Emangnya Kakak pikir aku se-bego itu apa? Gak punya otak buat mikir kayak gitu???” Kana memakiku. Darahnya mulai mendidih lagi, “Sejak hari pertama masuk ke rumah itu aku juga udah gak betah, Kak. Tapi aku gak pernah punya kesempatan buat kabur. Dia selalu ngunci pintu. Tiap anak pegang kunci satu-satu. Juga suaminya. Pintunya selalu terkunci. 5 tahun, Kak, aku dikurung. 5 tahun!!!” tangisannya semakin menjadi-jadi, memuntahkannya sekaligus.

            Dan aku hanya bisa diam. Ingin rasanya aku berdiri memeluknya, tapi seakan pantatku tertancap pada karpet merah dengan motif khas daerah padang pasir yang dibeli bu Andiku di Tanah Abang. Padahal saat-saat seperti inilah waktu yang tepat untukku memeluk Kana, untuk mengurangi beban yang selama ini menghimpitnya, yang selalu menghiasi tidurnya dengan mimpi buruk yang berulang-ulang. Saat seperti inilah peranku sebagai manusia dibutuhkan. Rasa kemanusiaanku diuji oleh diriku sendiri. Tapi aku masih diam. Badanku terasa berat. Pantatku seperti tertempel dengan lem super.

            Kana terus menangis. Perasaannya terguncang dasyat.

            Dan aku tetap diam memandanginya dengan tatapan yang tak dimengerti oleh diriku sendiri.

            Kemudian Kana lari ke kamarnya.

            Bola mataku mengikutinya, mengintip dirinya tertelungkup di atas tempat tidurnya. Hawa sedih dari kamarnya menggelitik bulu kudukku.

            Aku tetap diam. Dalam diam aku berlari. Lari dari tanggung jawab. Lari dari hati nuraniku sendiri.

            Teng! Teng!

            Juri datang dengan hasil: sang pengecut dalam diriku yang jadi pemenang!

            Aku tertunduk malu. Malu pada diriku sendiri. Rasa malu yang menusuk-nusuk jiwaku.

Barakallahu lakuma

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Koq nggak bosan2..

Seorang mahasiswa baru saja keluar dari kelas, dia baru mengerjakan ujian Structure yang segebok itu banyaknya. Delapanpuluh item! Hmm kayaknya aku sudah bisa membayangkan betapa suntuknya mahasiswa menggarap soal Structure yang begitu bejibun.

Waktu hampir berakhir kepalakupun ikutan pening melihat mahasiswa yang semakin pusing. Akhirnya akupun keluar mencari angin, sambil sedikit menyalurkan hobi lama. Foto2..hehe.

Satu kali jepret, gedung Sport Centre nan megah, satu diantara gedung UIN terbesar. Arsitektur bangunannyapun cukup nyaman dan efektif. Di bawah tribun adalah kantor2 UKM yang dihuni oleh mahasiswa dan pejabat2 Kemahasiswaan. Pintunya gerbangnya menghadap sedang pintu masuk Student Centre berada di sisi lain gedung yang tangga setapaknya cukup curam. Satu gambar cantik sduah kuambil, seorang mahasiswa mendekati.

Rupanya dia sudah selesai mengerjakan soal Structure tersebut. Pelan dia mengatakan “koq nggak bosan2 bu fotoin gedung2 itu?” ..

Blarr .. bagai tertembus kilat. Tau2 jantungku terasa copot. Hmm ternyata untuk mendalami suatu hobi berat juga. Hanya dengan menyebut fotografi tantangannya sangat menggelikan. Untuk mengambil gambar ini itu, aku nggak bisa bayangkan betapa sangat naifnya seorang mengatakan bahwa obyek ini tidak perlu diambil gambarnya. Pikiran jadi menerawang pada kantor pub dan info milik pak Anwar Firdausy. Semua komputer disana berisi ribuan foto2 kegiatan kampus, obyek2 berhenti dan bergerak, film video dll. Dan semua itu belum tentu terpakai. Hanya dengan harapan bahwa semua gambar pasti akan bermanfaat (teringat nasehat pak Anwar Firdausy), maka akupun tidak pernah membuang moment2 penting.

Dan buktinya semua gambar2 itu bisa berbicara, terutama karena hobby bloggingku mulai memuncak.

Hmm masih terngiang ucapan Zainul Hasan, mahasiswaku yang bertanya ”koq nggak bosan2 fotoin gedung2 itu”

Hmmm

Wallahu a’lamu bisshawab

Posted in Kampus UIN MALIKI | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Renungan Faizah

Faizah adalah kawan saya sekaligus ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah di Jerman. Dengan bahasa saya dia menceritakan kisah khas yang membuat ku termenung. Inilah jalan cerita Faizah.
Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ di tempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja / tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada di sini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya. “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu:”PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara :
“MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI”

, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA…

 
Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Kembang Kertas

Kembang Kertas

Kembang Kertas

Kembang Kertas

Posted in Pictura | Leave a comment

Berapikah Kawi

Berapikah Kawi?

Di Yogyakarta ada Merapi, di Malang ada gunung Kawi. Tepatnya gugusan gunung Kawi. Kenapa gugusan? Gunung Kawi adalah jajaran perbukitan dan gunung2 yang memanjang dari Selatan yaitu Blitar bagian Timur Selatan sampai sebelah utara kabupaten Malang di sekitar Lawang. Bentuknya nyaris mendekati seseorang yang sedang tertidur lelap menyedekapkan kedua tangannya. Rambutnya pun terurai panjang bak bidadari. Kakiknya terbujur kaku persis di bukit Panderman, bukit dimana menjadi langganan para wall climber.

Tepat di kaki gugusan gunung Kawi disitulah kota Malang berada. Cukup dekat dan dingin. Sebagian hamparan kaki gunung dan puncak2 perbukitan menjadi daerah eksotis dan subur yang sesuai bagi penduduk kota Malang untuk bercocok tanam, menghirup udara yang fresh, dan terutama menngenyam pendidikan di kota yang penuh dengan perguruan tinggi ini. Sungguh lokasi yang cocok.

Tapi betulkah gunung Kawi tidak berapi? Betulkah gunung Kawi mati? Sepertinya hampir2 tidak bisa dibayangkan apabila gunung ini meletus. Gunung ini mati dan terlihat mati, seolah2 sudah tidak ada aktifitas apapun. Hampir setiap orang pun paham sekali dengan gunung Kawi ini. Meski juga mengandung misteri seperti Merapi, gunung Kawi ini hanyalah memiliki kelebihan banyaknya makam para sesepuh yang dikeramatkan, seperti yang ada di Kapanjen. Tepatnya di sebelah selatan gugusan gunung Kawi. Juga seorang keturunan Raja Gowa, salah satunya dimakamkan di Ngantang, kabupaten Malang. Tepatnya di ujung gugusan Utara gunung Kawi.

Orang2 tua pernah bercerita, konon kabarnya nama Gunung Kawi tidak memiliki arti khusus kalau tidak diperpanjang terlebih dahulu. Kepanjangan dari Kawi adalah Kawitan atau dalam bahasa Jawa berarti yang awal. Entah benar entah tidak, gunung Kawi memang tidak meletus atau eruption seperti Merapi. Pun tidak memiliki kawah terbelah dan mengeluarkan asap tebal yang membakar. Namun siapa nyana kalau nama kepanjangan Kawi ini adalah ‘kawitan’ yang artinya di akhir hari nanti dia akan meletus.

Nah bila nanti gunung Kawi meletus tandanya adalah awal terjadinya hari Kiamat.

Sebagai manusia yang mempercayai akan adanya hari akhir, ini bukan menjadi masalah besar. Kita sudah terbiasa mendengar khabar letusan dan letupan Merapi yang banyak membawa korban. Bila Kawi meletus kita sudah siap dengan amalan dunia yang sebanyak2nya.

Amin

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment